Baca"Ya Fattaahu Yaa Qowiyu"21x, "Wa maa romaita idz romaita wa lakinnallaaha roma 9x ; Bayangkan diri kita memancarkan sinar membentuk benteng perlindungan diri ke arah 8 penjuru dan ke arah atas (9 penjuru) Setelah membaca keduanya tarik nafas dalam-dalam dengan visualisasi batin seolah menarik kekuatan dari ilahi.
Pertanyaannya 1. Firman, “wama romaita idz romaita walakinnallaha roma” Bagaimana maknanya ayat tersebut dan kaitkan dengan konsep perbuatan manusia dalam pandangan aliran kalam Qadariyah? 2. Allah memiliki sifat Baqa’ kekal dan disisi lain allah mensifati surga dan neraka juga dengan kekekalan. Lalu dimana letak perbedaan kekekalan tersebut? 3. Allah menciptakan segala yang ada di bumi dengan berpasang-pasang. Apa kebalikan konsep al manzilatu bainal manzilatain dalam perspektif aliran kalam Mu’tazilah. Lalu jelaskan latar belakang tibulnya dasar tersebut? Jawabannya 1. An nahl ayat 17, berbunyi “wama romaita idz romaita walakinnallaha roma” yang artinya Maka apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Menurut tafsir ulama’ fiqih, ayat tersebut secara historis menjelaskan tentang ketidak mampuan para patung atau pembuat patung dalam menciptakan/ berkuasa atas segala apa pun. Karena kuasa atas yang Ia ciptakan, itu karena Kuasa-Nya. Bahkan Allah menyebutkan ciptaan-Nya dan meberikan kenikmatan-enikmatan kepada ciptaan-Nya. Maka tidak ada yang serupa dan sebanding dengan-Nya seperti halnya patung-patung sekali pun. Dengan begitu kamu dapat menyadari bahwa yang menciptakan itulah yang berhak untuk sembah/ditaati secara utuh. Sedang dalam ajaran sufi/ tasawwuf, ayat tersebut bermakana lain. Terutama jika dilihat dalam kaca mata aliran kalam Qadariyah. Karena mereka menggap bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan, artinya tanpa campur tangan Tuhan. Maka dari itu, menurut saya pemikiran tersebut juga tak sepenuhnya benar. Karena meski bagaimana pun, jika setiap perbuatan manusia dipahami dengan hukum kausalitasnya atau sebab-akibat/asal-muasal Ibnu Sina seorang tokoh Sufi dan Filsafat islam, jelas pada akhirnya setiap kehendak manusia tergantung kehendak Allah. Seperti halnya kita makan, minum, tidur dan hidup sekali pun. Semua atas kehendak Allah dapat terlaksana. Tapi terkadang pandangan mereka ada benarnya juga saat dihadapkan dengan hadis qudsi, “Prasangka Allah tergantung Prasangka hambanya.” Seperti orang yang bunuh diri dengan cara minum racun serangga, menabrakan diri pada kereta api, makan nasi 3 piring, minum satu gallon. Maka tanpa dilihat secara mendalam, secara umum manusia bakal kenyang jika bun uh diri dengan cara tersebut dan bakal kenyang jika makan dan minum secara demikin. Jadi bagi saya, intisari ayat dan paham aliran kalam Qodariayah tersebut harus mampu dipahami secara kontekstual kekinian saja. Tergantung dasar kita memandang suatu permasalah yang ada secara syariyah ilimah, syariah otodoks atau tasawuf sufi. 2. Bagi Allah, baqa’ adalah sebuah sifat kekekalan yang tiada kefanaan. Karena pada dasarnya, seperti yang telah diintisarikan oleh hadis Qudsi, “sesungguhnya Selain Allah adalah Mahluk.” Begitupun Syuga dan neraka. Selain itu perlu ingat bahwa tiap-tiap sesuatu pasti binasa, baik atom, partikel, jagat raya, surge dan neraka. Itu akan terjadi saat sangkakala ditiup. Dan hanya ada Allah dan zat-Nya yang tak bernama saat itu. Sebagaimana dalam terjemahan dari al-Qashash 88 yang berbunyi “Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Perlu dipahami pula, bahwa yang dimaksud baqa’ itu ada dua, yaitu baqa’ karena sifatnya sendiri dalam hal ini hanya milik Allah dan zatnya semata. Dan baqa’ karena disifati yaitu mahluk ciptaa-Nya. Tapi gampangnya, baqa’ selain allah Syurga dan Neraka itu terbatas waktu yang ditentukan oleh sang Pencipta. Karena secara analogi, pak tukang kayu yang menciptakan wujudnya kursi dapat seenaknya merusak, membakar dan meniadakan kursi tersebut sesuai dengan kehendaknya. Sedangkan menurut Abu Yazid Albustami salah satu tokoh sufi yang memiliki kesamaan paham manunggaling kaula gusti milik syekh Siti Jenar yang akhirnya di anut oleh raden Ngabahi Rangga Warsito III, menjelaskan bahwa baqa’ dalam tasyawuf terdapat pula pada zatnya Allah. Yang mana saat terjadinya penyatuan zat yang berada pada manusia Ruh dengan Tuhan maka zat tersebut akan kekal. Dalam hal ini baqa diartikan oleh yazid sebagai pengertian ittihad. Jadi, selain Allah dan zat-Nya bakal tiada sesuai kehendak Allah, termasuk syurga dan neraka. 3. al manzilatu bainal manzilatain Posisi di antara dua posisi. Bagi saya dasar ini memiliki kebalikan yang berbunyi mampu berdiri sendiri secara mandiri tanpa intervesni dan pengaruh siapa pun. Dalam sejarahnya, paham diatas yang dianut oleh aliran Mu’tazilah ini berkembang pada saat dua posisi. Dan posisi tersebut pula yang melatar belakangi berdirinya aliran tersebut. Posisi pertama, kemunculan mu’tazilah sebagai respon politik murni dengan corak sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Posisi kedua, karena kemunculannya sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Dan mereka memasrahkan permasalah dosa tersebut seutuhnya sebagai hak prerogatif Allah semata. Lalu, secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis. Karena kedua posisi tersebut pula dasar al manzilatu bainal manzilatain muncul ditengah-tengah kaum mu’tazilah. Jadi, paham itu muncul karena konflik politik dan teologis yang sama-sama tidak menjanjikan kedamaian pada masa itu. Karena dalam sejarahnya, pada masa berdirinya aliran tersebut konstalasi politik dan aliran teologis lebih mengarah pada perpecahan Islam dan peperangan atar sesama golongan Islam. Ya.. meskipun Allah menciptakan semuanya secara berpasang-pasang, tapi aliran ini tidak ingin terlibat konflik pada pihak pro atau kontra pada massa itu, yang memberi sumbangsih perpecahan pada Islam.
Bolehmakan dan minum serta tidur pada hari Jum'at jam 5 pagi. Selama puasa doa dibaca 1000 x pada tengah malam. "BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.RABBI NAJJINII MINAL QAUMIDZHALIMIN.WAMA ROMAITA IDZ RAMAITA WALAKINNALLAHA ROMA.WALIYUBLIYAL MU'MINIINA MINHU BALA'AN HASANAH.SUMMUN BUKMUN UMYUN FAHUM LAA YAFKOHUUN.SUMMUN BUKMUN UMYUN FAHUM
[ad_1] Bukan saja orang Indonesia yang sakti, tentara Belanda juga punya kesaktian atau entah mengenakan baju antipeluru. Yang pasti, saat ditembaki ia bergeming. Seolah tidak ada peluru yang mengarah padanya. Melihat peristiwa demikian, KH Abdul Mufti Umar 95 tahun yang saat itu masih berusia muda tidak tinggal diam. Sosok menantu KH Yusuf Abdul Mu’thi Buntet Pesantren itu tegas mengatakan kepada rekannya, bahwa tentara Belanda itu bukan lawan sebanding sehingga ia harus mengambil alihnya. “Ini bukan musuh kamu, musuh saya,” kata KH Abdul Mufti Umar Kiai Uti dalam dokumen video Media Buntet Pesantren yang diambil pada Juli 2017 lalu itu. Bukan saja tentara yang antipeluru, di belakangnya juga ada tank baja. Secara lahiriah, jika ia tank baja yang berjarak kurang dari 30 meter darinya bergerak menuju dirinya dan dilindas, selesai sudah perkaranya. Tetapi, ia meyakini Allah swt. menghalang-halanginya. “Kalau dilindas tank baja itu menurut lahirnya ya udah kelar tapi ya Gusti Allah yang menghalang-halangi. Itu bukan musuh kamu, biar saya yang mengatasi,” kata Kiai Uti, sapaan akrabnya. Ia meyakini sepenuh hati, bahwa Allah swt. akan menolongnya. Tembakan yang ia lepaskan pasti mengarah tepat ke tubuh si penjajah dan meregang nyawa. Sebab sejatinya, bukan ia yang menembak, tetapi Allah swt. Seberapa besar pun gunung, katanya, sedalam dan seluas apapun lautan, jika Allah yang melemparnya niscaya hancur. Sebelum tembakan itu dilepaskan, ia membaca satu Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 17, wama ramaita idz romaita walakinna llaha rama. Musuh pun seketika tergeletak, mati. Ilmu Siluman Dalam kesempatan tersebut, Kiai Uti juga mengaku mempunyai ilmu siluman. Pikiran saya mengawang ke hal-hal negatif. Tentu saja mengingat diksi siluman itu negatif. Tetapi kata siluman ternyata metafora untuk menyebut ilmu menghilang. Ya, dia memiliki kemampuan menghilang begitu saja, menurut pengakuannya. Suatu ketika, ia tiba-tiba saja dikepung pihak Belanda. Di antara mereka, ada yang berseru memintanya agar tidak berlari. Tapi ia dengan santai menceritakan memang tidak perlu berlari. Keluar juga tidak bakal mereka ketahui. “Ya gak perlu lari lagi. Keluar juga gak bakal tahu. Ayat Qurannya itu ada,” katanya. Lalu, ia membacakan Al-Qur’an surat Al-An’am 6 ayat 103, “Laa tudrikul absharu wahuwa yudrikul abshar, wahuwa llathiful khobir,” ucapnya, lalu meniupkan nafasnya ke arah Belanda. Saat itulah, Belanda tidak lagi melihatnya sehingga ia bisa melenggang mulus dengan santainya. “Seberapa rapatnya juga tetap saja bisa keluar. Beberapa kali saya begitu,” ujarnya. Ia menyebutkan peristiwa demikian yang dialaminya, seperti 1 di Desa Sumbakeling, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, 2 di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dan 3 di Desa Lemah Putih, Kecamatan Lemah Sugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Wangi Syahid Kiai Uti berjuang bersama dengan putra KH Abbas Abdul Jamil, yakni KH Abdullah Abbas. Dalam beberapa pertempuran, ia mengaku membersamai kiai yang pernah diamanahi sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Barat itu. Misalnya saja, saat pertempuran di Desa Sukamulya kemungkinan berada di Kabupaten Majalengka. Seorang warga Buntet Pesantren bernama Muhit dikenal dengan baunya yang sangat tidak sedap meninggal tertembak Belanda. Tapi siapa sangka, darahnya begitu wangi semerbak. Saat itu, kata Kiai Uti, KH Abdullah Abbas menanyakan kepadanya, siapa yang menggunakan wewangian yang sedemikian harum dalam pertempuran di tengah hutan seperti ini. Ia pun menjawab, orang mana yang berlaku demikian, di tengah hutan menggunakan wewangian. “Tidak ada di alam dunia bau minyak wangi yang demikian itu, eh ternyata darahnya Muhit. Orang yang baunya nggak kira-kira tadinya, pas meninggal saat pertempuran Masya Allah wangi bukan main,” katanya. Penulis Syakir NF Editor Fathoni Ahmad [ad_2] Source link minal qaumidzhalimin.wama romaita idz ramaita walakinnallaha roma.waliyubliyal mu'miniina minhu bala'an hasanah.summun bukmun umyun fahum laa yafkohuun.summun bukmun umyun fahum laa yubsiruun.summun bukmun umyun fahum laa yatakallamuun.summun bukmun umyun fahum laa yatazakkaruun. yaa allah yaa Apa Sinonim Khasiat ? Halaman ini menjelaskan sinonim atau persamaan dari kata Khasiat. Sinonim Khasiat [n] faedah, guna, keampuhan, kebaikan, keefektifan, kegunaan, keistimewaan, kekuatan, kemanjuran, kemaslahatan, kemujaraban, kemustajaban, kesaktian, keunggulan, keuntungan, manfaat; Kesimpulan Menurut Sinonim dan Tesaurus Bahasa Indonesia, Sinonim dari kata Khasiat adalah [n] faedah, guna, keampuhan, kebaikan, keefektifan, kegunaan.. Pustaka Sinonim Khasiat, tanggal akses 01 April, 2023. Tautan Sinonim Khasiat Kata Sinonim Terkait [n] arti, fungsi, guna, kebaikan, keefektifan, keistimewaan, kekuatan, kelebihan, kemujaraban, kemustajaban, kepentingan, khasiat, kurnia,... [n] kekuatan, kemanjuran, kemujaraban, kemustajaban, kesaktian, khasiat [n] arti, faedah, fungsi, guna, harga, kebaikan, kemaslahatan, keuntungan, khasiat, laba, untung, utilitas; [n] faedah, keberhasilan, kegunaan, kemampuan, kemangkusan, kemanjuran, kemujaraban, kemustajaban [n] arti, faedah, kemaslahatan, kepentingan, keuntungan, khasiat, makna, manfaat, nilai, profit, relevansi, utilitas .